Home

Profile

Layanan

Kontak

 

 

PERNAH ke Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo? Di pusat rehabilitasi anak di Jalan Slamet Riyadi itu akan Anda temukan berbagai hal yang mengundang kekaguman. Meski dikaruniai tubuh yang tak sempurna, penghuni di sana rata-rata dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Tak hanya itu, prestasi yang dicapainya semakin menambah kekaguman kita.
Siang itu, seorang wanita berusia empat puluhan tahun duduk seraya menunduk. Saking asyik, tubuh di kursi roda itu terlihat melengkung. Tangannya memegang manik-manik kecil warna-warni yang disusunnya menjadi barang berbentuk bulat panjang. Beberapa saat lamanya, hingga kemudian dia dapat menyelesaikan satu tempat botol aqua. Hasil karyanya itu begitu indah. Terlebih dengan manik-manik berwarna cerah layaknya handycraft yang dijual di toko-toko atau supermarket.
''Saya selalu mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan. Bila pas nggak ngajari anak-anak di YPAC, saya manfaatkan waktu saya untuk merajut, menyulam, dan membuat bunga dari bahan daur ulang atau membuat seperti ini,'' urainya seraya menunjukkan tempat botol aqua dari manik-manik.
Wanita bertubuh subur itu memang pantas menjadi salah satu pengajar di YPAC Solo.
Penderita polio sejak usia dua tahun tersebut bernama MA Endang Indarti. Dia lulusan terbaik pada masanya, sehingga dipercaya sebagai pengajar ekstrakulikuler bagi adik-adik kelasnya.
''Saya memang senang menyulam. Sejak lulus SMKK Marsudirini Solo pada 1974, saya semakin mahir menyulam. Begitu tahu kemampuan saya, Bu Soeharso (istri Prof dr Soeharso, pendiri YPAC Solo-Red) meminta saya mengajar ekstrakulikuler di sini,'' papar Endang yang masuk YPAC sejak duduk di bangku SD.
Ke Hong Kong
Berkat keterampilannya di bidang merajut, wanita kelahiran Sragen, 14 Maret 1953 itu pernah diundang pemerintah Hong Kong pada 1991. Dia bersama beberapa penyandang cacat dari berbagai belahan dunia diundang untuk mengikuti Ablelimpic, semacam perlombaan tingkat dunia bagi penyandang cacat.
''Meski saya nggak menang, itu pengalaman tak terlupakan. Saya bisa jalan-jalan ke Hong Kong gratis.''
Sebelumnya, dia memang pernah menjuarai Ablelimpic yang digelar di Solo pada 1981. Karena prestasi itulah, dia kemudian ditunjuk untuk mewakili Indonesia dalam bidang merajut. ''Saya kalah lantaran mesin yang digunakan di sana berbeda. Selain itu, saya nggak mudheng bahasa Inggris. Jadinya longa-longo,'' ungkapnya seraya terkekeh-kekeh.
Tak hanya itu, Endang ternyata mahir bermain panahan dan menembak. Tentu hal itu menambah deretan prestasi yang pernah diraihnya. Sebelumnya, Endang pernah menjuarai cabang olahraga panahan pada Fespicgames (pesta olahraga penyandang cacat Asia Pasific) 1986 yang diselenggarakan di Solo.
Berkat kemampuannya memanah dan menembak itulah, pada 1989 dia mewakili Indonesia untuk bertanding di Kobe, Jepang.
Lagi-lagi karena kendala bahasa, dia harus menelan kenyataan pahit. Terpaksa, impiannya untuk menjadi juara pada dua bidang olahraga itu kandas.
''Saya salah membaca jadwal pertandingan. Lagi-lagi lantaran saya nggak bisa berbahasa Inggris. Jadinya, saya hanya jago kandang.''
Barangkali, penyesalan Endang memang banyak benarnya. Bagaimana mungkin tinggal di negeri orang tanpa menggunakan bahasa internasional? Apa pun hasilnya, usaha wanita yang sejak kecil mahir bermain ketapel ini layak diacungi jempol. Seorang wanita tanpa dikaruniai kaki sempurna, namun tetap dapat berprestasi layaknya manusia normal.
Soal kepiawaiannya bermain ketapel ternyata menyimpan kenangan tersendiri. Endang kecil yang kala itu berjalan sambil merangkak, sering diejek dan disakiti teman sebayanya. ''Kaki saya sering diinjak. Karena saya nggak bisa lari, saya dibekali ketapel untuk membela diri. Begitu ada yang menjahili saya, langsung saya ketapel,'' kenangnya sembari tersenyum.(Anie R Rosyidah-17j) Diambil dari Suara Merdeka Senin, 12 Agustus 2002
 

 

 

 @2006 Byte Solution

 

Home

Profile

Sejarah

Galeri Photo

Layanan

Kontak